Jalan-Jalan

Cordela Hotel Medan: Hotel Murah di Pusat Kota

Cordela Hotel Medan. Pertama menginap di Hotel Cordela tahun 2020, dan sampai sekarang kalau pulang ke Medan kemalaman, atau ada hal lain Cordela selalu menjadi pilihan. Baru-baru ini, tepatnya di hari kedua Idulfitri, saya dan Bapak jalan-jalan ke Mal Center Point yang berada tidak jauh dari Hotel Cordela, berdekatan juga dengan Stasiun Kereta Api Medan. Rencana awal sekadar jalan-jalan saja, belum ada tujuan jelas membeli sesuatu. Tapi, ketika melihat optik Bapak kepikiran untuk ganti kacamata, namun tidak ada yang sesuai selera dia, ya sudah, akhirnya saya yang periksa mata. Karena kacamatanya baru bisa saya terima dua jam kemudian, maka kami memilih menunggu sambil makan di salah satu restoran Jepang di dalam mal, yaitu Hanamasa. Makan aja terus sampai kenyang! Huh! Makan siang selesai, tapi kacamata belum jadi. Harus menunggu sekitar setengah jam lebih.

Perut begah. Kekenyangan. All you can eat! Tapi di dompet enggak irit. Hahaha. Hiks. Saya enggak sanggup mau keliling mal, lagian enggak ada yang ingin saya beli. Alhasil, Bapak minta dipesankan coffee latte di Starbuck. Ini kali pertama saya merasa enggak nyaman di Starbuck. Selain tempatnya mungil, pengunjung sampai mengantre. Bapak saja harus berbagi meja sama yang lain. Gak enak kali, kan. Bahkan, setelah pesanan saya siap, saya mesti berdekatan duduk sama abang-abang. Dududu… Mana di smoking area lagi. Saking enggak nyamannya saya jadi kebelet boker. Ya Allah… Syukur, pihak optik mengirim pesan via wa, memberitahu bahwa kacamata bisa segera diambil. Lebih cepat dari kesepakatan. Saya buru-buru mengambilnya karena perut semakin bergejolak. Urusan kacamata beres, tapi masalah perut saya kian menjadi-jadi. Melihat kegelisahan sang istri, hehehe, Bapak memberi usul, “Apa kita pesan hotel aja?” What? Awalnya saya menolak, namun pada akhirmya saya setuju setelah melihat toilet mal ramai dan lagi-lagi ketemu antrean.

Alasan Pilih Cordela Hotel

Entah sudah berapa kali kami menginap di Hotel Cordela, tetap saya enggak berani keluar kamar tanpa Bapak. Suka kepikiran aneh-aneh, sebab sistem keamanannya B saja. Akses ke lift dan tangga darurat cukup dekat dengan lobi. Meskipun demikian, selama kami menginap masih merasa aman. Selain ber-budget ramah dompet, hotel ini lokasinya sangat strategis. Berada di pusat kota di jalan Prof. H. M. Yamin, No. 90. Pelayanan cukup baik. Karena low budget maka fasilitas menyesuaikan. Tapi, enggak perlu khawatir, masih bisa merasakan kenyamanan.

Merupakan hotel bintang 2, Hotel Cordela adalah bagian dari Omega Hotel Management (OHM), bisnis yang bergerak di industri perhotelan. OHM telah mengoperasikan 16 hotel dengan lima brand hotel, yaitu Cordex, Cordela, Cordela Inn, Grand Cordela dan Alfa Resort by Cordela.

Check In Tanpa Menunggu Lama

Tiba di hotel kami langsung disambut petugas yang membantu memarkir kendaraan. Area parkir berada di depan hotel, dekat sekali dengan jalan, dan tidak terlalu luas. Awalnya ragu, dan sempat nanya ke abang berseragam sapari hitam, aman apa enggak. Aman, katanya. Alhamdulillah. Jangan lupa helm titip ke si Abang kalau bawa motor agar tidak basah ketika hujan, sebab tempat parkir tanpa kanopi. Sebelum masuk ke lobi, di depan hotel ada mini cafe. Asik juga kalau malam duduk di situ sambil melihat keramaian kota Medan. Lebih tepatnya melihat kendaraan berlalu-lalang.

mini cafe di depan hotel
kiri: lobi hotel saat pertama kali saya menginap. kanan: suasana lobi ketika saya menginap di lain waktu

Untuk area lobi sangat simpel. Ada dua sofa yang diletakkan secara terpisah, lukisan becak dan tugu air mancur khas kota Medan dalam satu frame, dan bunga sintetis yang diletakkan di sudut dekat dengan pintu masuk-keluar. Sejauh mata memandang tidak banyak ornamen dipasang. Dari lobi kita bisa melihat restoran hotel bergaya minimalis. Setelah serah terima kunci kami langsung gerak cepat ke kamar. Saya sudah tidak tahan. Hahahaha…

Kamar Deluxe Double

Beruntung kali ini lancar jaya, di jalan dan saat check in. Sebelumnya pernah punya pengalaman kurang menyenangkan. Begitu pintu dibuka saya langsung meluncur ke kamar mandi. Badan sudah keringat dingin. Di perjalanan saya berkali-kali melakukan tarik napas dalam, lalu buang perlahan. Sesak boker terparah yang saya alami, sampai harus pesan kamar hotel. Ya ampun. Parah sih ini. Hahaha.

Untuk desain kamar, deluxe double terkesan sangat minimalis. Sentuhan warna furniture yang natural membuat kamar ini tidak begitu membosankan. Dengan satu queen bed membuat kamar penuh, hanya menyisakan ruang kecil di sisi dan di bawah ranjang. (Maksudnya bukan di kolong ya. Seperti tampak pada gambar). Tapi masih bisa gelar sajadah. Lumayan ya. Ada space.

kamar tipe deluxe double. sumber: tripadvisor.co.id

Mengenai pengalaman kurang menyenangkan, pernah kami alami beberapa kali. Ceritanya begini. Saat pesan kamar deluxe business, key card yang diberi mbak resepsionis tidak bisa digunakan. Berkali-kali tap pintu tidak bisa dibuka. Alhasil, kami harus kembali ke resepsionis mengganti kunci, namun lagi-lagi enggak bisa. Beberapa kali ganti kunci baru berhasil. Kejadian berikutnya, kami ganti kamar, karena kamar pertama berbau kurang nyaman. Seprai agak kumal. Dan yang terbaru, kamar deluxe business juga. Eh, gabung aja ya ceritanya, enggak apa-apa kan. Cerita di kamar ini lampu mati. Listrik di kamar bermasalah. Horor ah. Saya lagi sendiri, Bapak yang sedang berada di lobi menunggu temannya langsung menghubungi resepsionis untuk memanggil teknisi. Ternyata setelah Bapak pergi lampu kembali padam. Dia yang udah jalan kembali lagi ke hotel. Repot ya. Hiks. Setelah dua kali perbaikan, lampu terus menyala sampai kami check out.

Baca juga: Grand Central Hotel Medan: Hotel Murah dengan Fasilitas Ramah

Kamar Deluxe Business

Baik kamar deluxe double maupun deluxe business, saya merasa keduanya sama-sama nyaman. Tapi jika harus pilih salah satu, ya pasti deluxe business karena ukuran kamar lebih lega, ada working area, meja dan kursi. Untuk fasilitas lainnya sama. Tersedia coffee/tea maker, air mineral, tv, ac, telepon, brangkas dan lemari tanpa pintu. Begitu juga dengan kamar mandi, toiletriesnya sama di tipe kamar mana pun. Bedanya, ukuran kamar mandi deluxe business lebih besar. Yang saya suka, air panas di Hotel Cordela ini enggak pernah ngajak berantem. Airnya cepat panas, dan bisa diatur dengan baik.

kamar tipe deluxe business
kamar mandi deluxe business

Berbeda dengan tipe deluxe doubel, ukuran kamar deluxe business bisa buat berguling-guling. Hehehe. Desainnya juga lebih ok. Ya, mungkin karena lebih besar. Tapi keduanya tetap mempertahankan kesan minimalis dengan warna natural dan stiker di dinding headboard yang enggak mencolok.

view kota Medan saat malam dan pagi hari dari kamar hotel

Sarapan di Cordela Hotel

Dari lobi kita bisa melihat restoran hotel yang minimalis, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Menyajikan beberapa varian menu utama, yaitu nasi putih dengan lauk ayam, bihun goreng dan bubur ayam. Dari semuanya saya memilih bihun goreng. Selain itu, saya juga mencoba bubur ayam. Rasa keduanya enak. Cocoklah di lidah saya. Enggak kecewa. Untuk menu dessert, ada puding pandan. Rasanya seperti apa, ya, rasa puding. Hahaha. Ada beberapa pilihan minuman, seperti air putih, teh, dan jus jeruk. Umumlah ya. Walau enggak banyak varian menu, tapi saya suka. Rasanya oke.

restoran hotel cordela. sumber: booking.com
sarapan dengan sajian prasmanan
menu sarapan: bihun goreng dan bubur ayam

Kembali ke cerita dua syawal. Sebenarnya enggak ada niat untuk bermalam. Selesai Bapak kumpul bareng teman lama, kami pulang. Tapi, jalanan macet walau udah malam hari, jadi kami memutuskan untuk menginap. Ah, ini cerita paling enggak kepikiran. Enggak ada dalam rencana juga, cuma karena saya sesak boker. Syukur doi pengertian. Hihihi. Terima kasih buat Bapak, dan Cordela Hotel Medan yang sama-sama bisa bikin nyaman. BTW, Cordela Hotel Medan pernah menjadi pemenang Traveloka Awards 2019 sebagai Makanan Terbaik. Nah, enggak salah kan saya. Walau pun menunya sederhana, tapi rasa boleh dicoba. Enak. Semoga kedepan bisa lebih baik lagi. Oke. Daaah— Sampai jumpa di cerita jalan-jalan saya bersama Bapak selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *