Jalan-Jalan

Staycation di Santika Premiere Dyandra Hotel Medan

Staycation di Santika Premiere Dyandra Hotel Medan. Setelah beberapa bulan berkutat dengan aktivitas yang itu-itu saja, sudah seperti wall decor di laundry room: wash, dry, fold – repeat, ada saatnya tubuh dan pikiran ingin rehat sejenak. Diri butuh istirahat, butuh energi baru biar tetap sehat (biar ngga marah-marah juga hehehe), jadi liburan sehari juga ngga apa-apa.

Rencana liburan kali ini kami buat seminggu sebelum pergi, tapi memutuskan tempat tujuan beberapa jam sebelum berangkat. Scroll… Scroll terus… Nyari hotel yang lagi diskon. Lumayan sisa budget bisa buat jajan atau tambahan uang belanja. Hahaha. Setelah mencari beberapa hotel yang nyaman di fasilitas dan kantong tentunya, kami pun sepakat memilih staycation di Santika Premiere Dyandra Hotel Medan.

Sebenarnya, ini bukan kunjungan pertama saya ke Santika Premiere Dyandra Hotel & Convension, ketika masih kuliah, saya sering ke sini bersama Bapak, main ke Gramedia numpang baca buku. Beli buku sesekali saja. Karena area parkir yang luas dan ada musala, jadi kami lebih senang main ke Santika. Selain itu, di beberapa kesempatan saya pernah mengikuti International Education Expo.

Tentang Santika Premiere Dyandra Hotel Medan

Santika Premiere Dyandra Hotel & Convension Medan merupakan bagian dari Santika Indonesia Hotel dan Resorts. Grup hotel Indonesia yang dikelola oleh PT. Grahawita Santika, Kompas Gramedia. Mulai tahun 2006 Santika Indonesia Hotel dan Resorts telah memiliki empat brand, yaitu The Royal Collection, Hotel Santika Premiere, Hotel Santika, dan Amaris Hotel. Semuanya tersebar di seluruh Indonesia termasuk di Medan, yang dibuka pada tahun 2012. Hotel bintang empat ini terdiri dari 12 lantai, 324 kamar dan suites, 5 meeting room, ball room berkapasitas 1.200 orang, dan exhibition hall dengan kapasitas 3.000 orang.

Lobi Hotel

Karena pernah ke Santika, rasa penasaran saya tidak seperti saat akan staycation di hotel-hotel sebelumnya. Tapi tetap penasaran kok, kan waktu itu hanya ke Gramedia dan ball room-nya saja. Sore, menjelang Magrib kami sampai. Di pintu lift menuju lobi ada petugas memeriksa suhu tubuh dan menyemprotkan disinfektan sampai ke tapak sepatu. Ah, syukur ga nginjak tai kucing, batin saya. Hahaha.

Saya takjub begitu masuk ke lobi hotel. Didominasi warna merah sebagai aksen, lampu gantung berjumlah cukup banyak membuat daya tarik yang tidak main-main. Sederhana tapi elegan, begitulah kesannya. Lampu-lampu gantung tersebut terefleksikan ke lantai sehingga menciptakan nuansa hangat. Dinding kaca berukuran besar menambah pencahayaan alami. Di balik dinding kaca tersebut kita bisa melihat jajaran pohon rindang di Jalan Kapten Maulana Lubis yang juga merupakan alamat hotel.

lobi hotel

Seperti biasa, saya membawa tas parasut jinjing berisi baju. Tas ransel berisi harta berharga kami, yaitu laptop, saya minta Bapak membawanya. Lobi tampak lengang. Hanya ada beberapa orang yang sedang melakukan check in atau keperluan lain di meja resepsionis. Kursi di lobi lumayan banyak, jadi saya merasa beruntung bisa duduk sambil menunggu Bapak selesai proses check in. Selain itu, saya juga punya kesempatan mengambil beberapa foto dengan kamera ponsel. Di antara desain interior modren minimalis, ada kain tenun yang mencuri perhatian. Perpaduan desain yang sangat keren dan estetika, menurut saya.

Suasana lobi yang nyaman membuat saya ingin duduk lebih lama, namun apa daya, Bapak sudah memanggil untuk segera ke kamar. Di koridor menuju kamar ekspektasi saya semakin tinggi.

Superior Room Queen

Bapak menempelkan guest room key berbentuk kartu di pintu bernomor 103xx. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka memperlihatkan seisi kamar. Saya diam sesaat setelah meletakkan tas di meja yang menyatu dengan kabinet sambil mengingat berapa ratus ribu bapak sudah membayar kamar superior room queen ini, dan apa yang ada di depan mata jauh dari ekspektasi. Saya menghela napas, menenangkan perasaan. “Ya udah lah, mau gimana lagi. Mari kita nikmati. Saatnya liburan,” hibur lelaki dengan berat badan tak pernah turun sejak menikah itu. Ya, dia benar. Ada harga ada kualitas, tapi ini kenapa saya susah menerimanya? Hahaha. Ntah lah!

kamarnya kurang lega, tapi cukup nyaman
ga ada lemari berpintu, cuma kabinet tempat hanger baju dan barang lainnya. monmaaf berantakan. hehehe
kamar mandi bersih. hanya saja agak lama menunggu airnya panas

Terlepas dari ketidaksesuaian harapan dan kenyataan, kamar superior ini lumayan nyaman. Kamar mandi bersih. Air hangat aman. Di masa pendemi pihak hotel cukup peduli dengan kondisi. Handuk berbungkus plastik, cangkir untuk minum teh atau kopi diganti gelas kopi sekali pakai, dan ada 3 pcs masker. Walau berukuran kecil, fasilitas tetap baik. Kamar yang juga beraksen merah ini dilengkapi meja kerja dan tipe kursi kantor yang beroda. Dan beruntungnya dapat view kota. Awalnya Bapak minta view kolam renang, tetapi sudah penuh. Oke lah, view kota juga bagus.

view kota sore dan malam hari. tampak Podomoro City Deli Medan
Baca juga: Staycation di Adimulia Hotel Medan

Sarapan di Benteng Restaurant

Apakah nama Benteng terinspirasi dari nama lapangan Benteng yang berada tepat di samping hotel? Bisa jadi iya atau entah lah, saya tidak tahu pasti. Sekitar pukul setengah delapan kami turun ke lantai 3 untuk sarapan. Saat masih di kamar Bapak ngomong, “Yok lah cepat. Nanti abis pulak.” Hahahah. Saya pun bergegas keluar kamar. Ntar kalau sarapannya habis bisa repot juga lantaran harus cari warung untuk beli lontong, sehingga waktu berleyeh-leyeh jadi berkurang. Kan ga enak. Setelah cek suhu dan memakai handsanitizer saya mencari meja kosong sambil menunggu Bapak.

Nah, untuk Benteng Restaurant saya ngga kecewa. Bagus. Ada bagian in door dan out door. Sarapan di ruangan terbuka rasanya spesial banget. Dapat udara segar. Maka dari itu, usai saya memenuhi piring dengan nasi putih, tumis buncis wortel, orek ikan (mungkin), dan sosis, minumnya teh manis hangat, kami memilih sarapan out door di samping kolam di depan spa dan kolam renang.

menu sarapan
kolam renang dan spa

Lagi-lagi pelayanan di Santika cukup bagus di masa pandemi. Sendok disarungin plastik, makanan juga tidak ambil sendiri. Tapi, ini nih yang berat banget saya mau nulisnya, rasa makanannya ampun sekali. Saya takut mencela makanan, tapi kali ini saya ingin nangis. Beneran. Ga nyangka dan ga kebayang bakal makan makanan se-aduh ini di hotel sekelas Santika. Saya nyobain nasi goreng Bapak, ga jauh beda sama nasi putih saya. Tapi punya saya lebih parah hampir tidak bisa saya telan. Rasanya seperti nasi kemarin yang dipanaskan dan lembek. Sayur buncis keras, sosis dan ikan rasanya hambar. Saya mencoba menghabiskan tapi tetap bersisa walau sedikit. Saya lihat beberapa meja di sekeliling, nasi di piring mereka masih menggunung dan sudah ditinggalkan. Sakit banget lihatnya. Masih banyak manusia di bumi ini yang kelaparan. Ya Allah maafkan kami.

Drama Makanan di Santika Grup

Ternyata kejadian serupa dialami juga oleh seorang travel blogger. Beberapa minggu setelah saya staycation di Santika Hotel Medan, Mbak travel blogger tersebut membuat story di instagramnya yang mengeluhkan layanan makanan di Santika tapi bukan di Medan. Mbaknya bilang lumayan sering nginap di hotel ini, dia suka sama pelayanan dan menu breakfast-nya. Tapi kali ini dia kecewa sama rasa makanan yang ga ada rasa dan keras. Sama kan seperti saya. Melihat ada teman yang bernasib serupa saya komentari story si Mbak. Jadilah kami kecewa bareng dengan hotel Santika yang berbeda. Ngga nyangka hotel sekelas Santika pelayanannya bisa saya katakan sangat mengecewakan. Semoga Santika bisa memberi pelayanan terbaik untuk ke depannya.

Libur Telah Usai, Saatnya Check Out

Kami menutup sesi sarapan dengan tiga potong dimsum. Satu untuk Bapak, sisanya saya. Beruntung rasa dimsum mampu mengobati rasa makanan sebelumnya. Saya meneguk teh manis yang mulai dingin. Karena tidak ada rencana hotel tour, bahkan melihat kolam renang sekali pun yang hanya sepelemaran batu, maka kami memilih balik ke kamar menghabiskan beberapa jam dengan tidur atau sekadar rebahan menunggu waktu check out.

gelap. hahahah

Kami check out pukul sebelas. Suasana lobi masih menarik perhatian saya. Kali ini lebih sepi. Saya duduk sesaat sambil menunggu Bapak. Ohya, sebelum menuju lobi, tepatnya ketika keluar dari lift ada Vintage Lounge yang konsepnya nyaman banget. Dari website hotel saya mendapatkan informasi selain Benteng Restaurant, Vintage Lounge, ada Club Primier Sky Lounge dan Kafe Ulos. Desain interior hotel ini saya akui juara. Kalem dan minimalis. Lupakan saja drama makanan itu, ingat saja baiknya, sebab Santika Premiere Dyandra Hotel Medan tetap menjadi salah satu tempat staycation yang bisa masuk dalam daftar tempat liburan dengan suasana kota yang nyaman.

Kurang dari lima menit proses check out kelar. Bapak menghampiri saya. Kami keluar lobi menuju lift berikutnya untuk ke area parkir. Ketika di parkiran, beberapa kenangan melintas membuat saya tersenyum pada diri sendiri. Terima kasih Tuhan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *