Hosting Unlimited Indonesia

Hotel Bandara Yogya. Ini hari yang menegangkan sekaligus penuh haru, setidaknya untuk perasaanku. Handle koper kutarik ke atas. Dua rodanya mulai berputar membentur keramik lantai. Ini terakhir kalinya aku mengunci pintu rumah kontrakan yang baru beberapa bulan kami tempati. Derak suara pagar tak membuat si Boy – kucing tetangga satu komplekku – datang seperti biasa. Semoga Boy tetap baik-baik saja, meski harus kehilangan satu kebiasaannya – makan di teras rumah yang sengaja aku beri.

boy kucing ras
Boy. Selamat tinggal Boy 🙁

“Kita ga sempat ke candi. Jangan merajuk. Nanti kalau sudah ga covid kita jalan-jalan.” Begitu caranya menghiburku meski tetap dengan wajah yang tak pernah manis.

Dia mengantarku lebih dulu ke Terminal Bus Efisiensi jurusan Cilacap-Yogyakarta, lalu pergi ke jasa ekspedisi untuk mengirim barang terakhir kami – sepeda motor. Setengah jam kemudian dia kembali dengan buru-buru. Bus segera meninggalkan kota industri, kota di mana dia memulai karier sebagai pegawai salah satu perusahaan milik negara bidang pembangkitan tenaga listrik.

bus efisiensi
Bus Efisiensi

Meninggalkan Cilacap

Uwuuu… Mata saya berkaca-kaca untuk menulis cerita ini. Hehehe. Udah ah bapernya. Yuk, lanjut cerita. Jadi, setelah naik bus Efisiensi yang nyaman banget itu, saya nangis. Nangis tanpa suara. Kalau bersuara malu, ntar dikira baby. Hahaha. Cengeng ya saya. Ga apa-apa lah ya, fitrahnya manusia. Baru merantau udah balik ke kampung. Hm. Dari Cilacap menuju Yogya saya ga bisa merem apalagi tidur. Sepanjang perjalanan disuguhkan dengan lebih banyak pemandangan persawahan. Kalau di Sumatra kan cuma bisa liat kebun sawit. Sementara, Bapak tidur tanpa hambatan sampai tiba di rest area dan reservasi bus Efisiensi Kebumen. Bus berhenti sekitar 10-15 menit. Cukup untuk membeli makanan. Bapak beli CFC, dan saya beli tahu bakso. Di Kebumen Bapak berubah pikiran. Rencana Cilacap-Sleman beralih ke Cilacap-Kulon Progo, langsung ke bandara baru Yogya-YIA.

persawahan di kebumen
Persawahan di Kebumen

Bus memasuki kawasan bandara sekitar pukul dua siang. Tidak terasa sebentar lagi (esok pagi) saya akan terbang meninggalkan kenangan di Teluk Penyu yang menghadap pulau Nusa Kambangan. Deru ombak laut selatan yang menyatu dengan Samudra Hindia masih terekam baik diingatan. Melihat matahari terbenam, meski bukan pemburu senja, tidak lagi bisa saya ulang. Logat Jawa ngapak kembali asing di pendengaran. Sekarang waktunya pulang. Pada akhirnya sesuatu itu harus berakhir.

Selamat Datang di YIA!

Turun dari bus saya kagum melihat sekitar, menyaksikan deretan perbukitan yang indah walau tampak jauh. Lukisan Tuhan sangat menakjubkan. Bapak menggeret koper, mencari tempat duduk di curb. Bandara sepi. Pandemi Covid-19 membuat suasana tidak sebagaimana mestinya.

bandara yia
Yogyakarta International Airport

Berbagai macam taksi online menawarkan jasa. Begitu pun porter yang siap membawa barang calon penumpang pesawat. Suasana ini cukup ingar di telinga saya. Ekspresi guguppun tercipta, alhasil saya panik sendiri. Beberapa kali Bapak mengingatkan untuk tidak mendengarkan apa yang bukan menjadi tujuan. Oh, dasar aku!

Semakin sore suasana kian sepi. Beberapa petugas melakukan pengecekan standar protokol kesehatan. Setelah semua selesai Bapak mengajak saya masuk lift menuju hotel. Aku melihat wajah leganya, setelah mengetahui bahwa di bandara ada hotel, sehingga tidak perlu keluar lagi mencari tempat istirahat untuk semalam saja. Dia terus mendorong troli sampai di lobi hotel.

Baca juga: Staycation di Java Heritage Hotel Purwokerto

Welcome to Cordia Hotel!

Berada di arrival terminal-YIA, hotel ini memiliki 55 kamar dengan bermacam fasilitas, seperti fitness, restoran, lounge, conference room, cleaning service, coffee shop, non-smoking area, wifi, dan lainnya. Begitu informasi yang saya baca di internet.

lobi cordia hotel bandara
Lobi hotel

Saat check in diminta untuk mengisi formulir sebanyak dua lembar. Di lembar pertama ada beberapa data yang harus dicantumkan seperti, nama, tanggal lahir, alamat, nomor KTP, alasan perjalanan. Kemudian, di lembar ke dua hanya menceklis mengenai riwayat penyakit yang kita alami seperti demam, dingin, batuk, sesak napas, dll. Selain itu, kami juga diminta untuk menunjukkan hasil rapid test. Hasilnya alhmdulillah negatif, jadi tidak perlu terlalu khawatir. Namun, tetap jaga kesehatan dan patuhi prokes.

Setelah semua proses check in selesai, selanjutnya mengistirahatkan badan dan pikiran.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *